Selamat datang di Situs Wiki Cipta Media Seluler
Didukung oleh:
Cipta media organisasi pendukung.png


Temukan Cipta Media Seluler di Twitter @ciptamedia Facebook: Cipta Media Seluler | Situs web: Cipta Media seluler


M-Pantau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan/Laporan

Dari Wiki Cipta Media Seluler
Langsung ke: navigasi, cari
EnglishBahasa Indonesia


m-Pantau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan


1. Laporan Tahap I


Laporan Narasi Pertanggungjawaban Hibah


m-Pantau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

ICT Watch

Instruksi untuk mengisi laporan penerimaan hibah

ICT Watch mengharuskan seluruh penerima hibah melaporkan kegiatan mereka dalam bentuk laporan naratif dan laporan keuangan berdasarkan Perjanjian Penerima Hibah Cipta Media Seluler yang telah disepakati kedua belah pihak. Laporan naratif disarankan dalam bentuk lima hingga tujuh halaman.

Laporan dapat dikirimkan melalui surel atau dokumen asli

Penerima hibah : Gamal Ferdhi (The Wahid Institute)
Periode Laporan : 4 September 2014 hingga 01 Juli 2015
Proyek : m-Pantau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan


1. Pembelajaran

Silahkan tuliskan pembelajaran, acara-acara yang anda buat/ alami yang dapat membuat perubahan dalam satu tahun kedepan sebagai hasil dari upaya upaya yang anda buat dibawah hibah yang anda terima, perubahan-perubahan yang anda percaya dapat membatu organisasi/ komunitas anda mencapai tujuan-tujuannya dan/ atau kesulitan dan tantangan yang tidak anda perkirakan yang anda temukan dalam periode pelaporan hibah ini.

Mobile Pantau Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (m-Pantau KBB) adalah program pemantauan kasus-kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia dengan media telepon seluler. Dalam program ini The Wahid Institute mengembangkan jaringan pemantau di 5 (lima) propinsi yang sudah dimiliki sebelumnya yaitu: Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah/ Jogjakarta, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Ditambah 4 (empat) propinsi khusus yaitu: Bali, Nangroe Aceh Darussalam, Ambon, Nusa Tenggara Timur. Selain 9 (Sembilan) daerah di atas, program ini juga menyiapkan 4 (empat) daerah tambahan yang dipantau secara mendalam, seandainya terjadi pelanggaran KBB yang serius.
Para pemantau diminta melaporkan kasus-kasus KBB yang terjadi di daerah secara real time melalui telepon seluler, baik SMS maupun melalui internet. Hasil pemantauan mereka, selain dalam bentuk SMS juga dalam bentuk laporan mendalam atau indepth reporting mengenai suatu kasus atau harmoni antar umat beragama yang terjadi di daerah. Laporan yang terjadi di lapangan dipublikasi melalui situs pantaukbb , juga website Wahid Institute dan akun media sosial Wahid Institute.
Dalam rancangan awal proyek, Wahid Institute berencana memberi honor rutin bulanan bagi tiap pemantau yang berada di 5 daerah tempat jaringan awal yang dimiliki WI, dan 4 daerah khusus. Namun saat pelaksanaan program, sistem itu diubah menjadi, penghargaan diberikan kepada pemantau-pemantau yang membuat laporan mendalam mengenai suatu kasus atau harmoni umat beragama di suatu daerah.<<KENAPA?>>
Kendala lainnya adalah, kekhawatiran invidu atau lembaga jejaring pemantau atau bahkan pemerintah daerah untuk melaporkan suatu kasus pelanggaran di daerahnya. Jejaring, baik lembaga maupun individu beranggapan jika pelanggaran KBB di daerahnya terlalu diekspos maka akan merugikan citra daerahnya sebagai daerah yang menghargai keberagaman. Dari sebab itu Wahid Institute meminta para jejaring di daerah juga melaporkan harmoni antar umat beragama atau event-event yang mengutamakan kebersamaan antar umat beragama. Hal ini untuk menjadi penyemibang informasi bahwa di daerah pemantauan tersebut tidak hanya terjadi pelanggaran, tapi ada juga aktivitas-aktifitas masyarakat yang menampilkan toleransi.
Wahid Institute memahami, masih banyak daerah pemantauan dengan kualitas jaringan internet yang belum baik. Oleh sebab itu kami meminta para pelapor hanya melaporkan suatu kasus atau harmoni melalui SMS. Penggunaan internet dalam proyek ini untuk menyebarkan laporan mendalam (indept reporting) ataupun kompilasi kasus-kasus bulanan.
Kendala lainnya adalah nomor SMS Center prabayar dari provider. SMS Center dengan nomor 0821-2000-1900 adalah nomor khusus yang disediakan proyek m-Pantau KBB untuk para pelapor dan juga masyarakat yang ingin melaporkan kejadian di daerahnya. SMS Center ini dapat menjawab pesan teks yang masuk secara otomatis.
Saat awal program ini diluncurkan, Wahid Institute menggunakan kartu telpon prabayar. Banyak pesan-pesan “sampah” dari provider ponsel yang masuk dalam SMS Center m-Pantau KBB. Ini mengakibatkan SMS center otomatis menjawab pesan-pesan tersebut dan akibatnya pada meningkatnya jumlah pulsa yang harus dibayarkan. Oleh sebab itu , pada bulan Juli 23015, nomor SMS Center mpantau
KBB di migrasi ke pasca bayar dengan nomor panggilan yang tidak berubah. Dalam memperluas penyebaran nomor SMS Center ini Wahid Institute tidak hanya terpaku pada event-event yang sudah ditetapkan dalam perencanaanproyek. Lembaga kami juga melakukan sosialisasi saat acara-acara yang melibatkan massa, juga bekerjasama dengan dua pemerintah daerah.

2. Aktivitas/ Isu yang Anda usung dan mencoba atasi

Berikut adalah aktivitas dan isu-isu yang anda masukkan pada permohonan hibah anda

  • Masalah: Data laporan isu KBB yang belum melingkupi seluruh wilayah Indonesia.
    • Aktivitas 1: Memantau isu KBB di seluruh wilayah Indonesia
  • Masalah: Laporan dari jaringan pemantau di daerah dan distribusi hasil pemantauan lambat.
    • Aktivitas 2: Membuat situs m-Pantau KBB berbasis ushahidi dan menyebarkan hasil pemantauan dengan SMS gateway dan internet.
  • Masalah: Kurangnya kapasitas staff Wahid Institute dalam menggunakan teknologi ushaidi dan SMS gateway.
    • Aktivitas 3: Melatih staff wahid Institute untuk menjadi operator ushahidi m-Pantau KBB;
  • Masalah: Pemantau lapangan belum memiliki kapasitas melaporkan dengan SMS gateway dan menggunakan Ushahidi.
    • Aktivitas 4: Mensosialisasikan tutorial pemantauan KBB berbasis seluler.
  • Masalah: Masyarakat kurang mengetahui adanya media untuk melaporkan kasus-kasus KBB, dan publikasi data jumlah kasus KBB tiap bulan dan tiap tahun.
    • Aktivitas 5: Sosialisasi pemantauan melalui jaringan pemantau di 13 provinsi yaitu: 5 provinsi basis, 4 provinsi resiko tinggi pelanggaran KBB dan 4 provinsi lainnya.

Aktivitas dan isu yang anda atasi hingga pelaporan ini dibuat:

  1. Aktivitas 1: Memantau isu KBB di seluruh wilayah Indonesia
    Pemantauan isu-isu KBB sudah dilaksanakan di seluruh Wilayah Indonesia. Selama masa pemantauan dari Januari hingga Juli 2015 tercatat:
    1. Pelanggaran KBB dengan pelaku non Negara sebanyak 43 kasus;
    2. Pelanggaran KBB dengan pelaku Negara sebanyak 31 kasus;dan
    3. 56 laporan praktek baik hubungan antar umat beragama
  2. Aktivitas 2: Membuat situs m-Pantau KBB berbasis ushahidi dan menyebarkan hasil pemantauan dengan SMS gateway dan internet
    1. Membangun SMS Center pemantauan MPantau KBB nomor 0821-2000-1900. Laporan ditampilkan dalam www.pantaukbb.org dengan kategorisasi laporan dibagi 3:
      1. Pelaku oleh Non Negara: Kategori ini memuat kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dilakukan oleh masyarakat, individu atau bukan aparat Negara. Seperti aksi sepihak menutup rumah ibadah oleh ormas dll
      2. Pelaku oleh Negara: Dalam kategori ini pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan dilakukan oleh aparat-aparat Negara. Seperti penerbitan peraturan peraturan daerah bernuansa agama, pelarangan beribadah oleh polisi dan satpol PP, pernyataan pelarangan oleh pejabat pemerintah dll.
      3. Praktek Baik: Pada kategori ini tercatat praktek-praktek baik hubungan anatar umat beragama di Indonesia. Antara lain, Saling bantu antar umat beragama dalam mengentaskan masalah social, Kerjasama antar umat beragama saat perayaan keagamaan agama lain, pernyataan dari pejabat pemerintah, tokoh ormas agama yang mendukung terciptanya harmonisasi umat beragama di Indonesia, dll.
    2. Hasil pemantauan juga disosialisasikan melalui SMS Center & Social Media Wahid Institute
  3. Aktivitas 3: Melatih staff wahid Institute untuk menjadi operator ushahidi m-Pantau KBB
    Selama proyek berlangsung, Wahid Institute telah melatih 5 staf dalam 4 kali pelatihan untuk menjadi operator ushahidi. Staf yang dilatih adalah: Gamal Ferdhi, Alamsyah, Andi Irawan, Siti Kholisoh & M. Subhi Azhari.
  4. Aktivitas 4: Mensosialisasikan tutorial pemantauan KBB berbasis seluler.
    Sosialisasi tutorial pemantauan lewat stiker dan social media milik Wahid Institute. Stiker disebarkan dalam setiap kesempatan acara-acara Wahid institute yang mengundang jaringan maupun massa.
  5. Aktivitas 5: Sosialisasi pemantauan melalui jaringan pemantau di 13 provinsi yaitu: 5 provinsi basis, 4 provinsi resiko tinggi pelanggaran KBB dan 4 provinsi lainnya
    Melalui 5 lembaga jejaring Wahid Institute yang berada di Jawa Barat, Jawa Tengah & Jogjakarta, Jawa Timur, Lombok (NTB) & Sulawesi Selatan. Wahid Institute juga memperluas jejaring dengan membangun kerjasama dengan lembaga lembaga di dua daerah rawan isu KBB yaitu Banda Aceh (NAD) & Kupang (NTT) juga satu daerah tambahan yaitu Sulawesi Utara (Manado & Sangihe)


3. Indikator sukses anda dalam permohonan hibah

Untuk mengukur keberhasilan program maka dirumuskan hasil dan indikator sebagai berikut:

  1. Pengunjung m-Pantau KBB meningkat 100 pengunjung per bulan;
  2. Tersedia tutorial m-Pantau KBB yang bisa diunduh di situs m-Pantau KBB ;
  3. Tiga orang pengelola m-Pantau KBB mengikuti seluruh proses inhouse training dan memahami materi yang diberikan;
  4. Masyarakat melaporkan kasus dan praktek baik terkait isu KBB melalui layanan sms gateway dan situs MPantau KBB;
  5. Minimal 100 undangan dan 5 perwakilan lembaga negara yang terkait dengan isu KBB menghadiri peluncuran di akhir tahun 2015;
  6. Terpublikasikannya peluncuran m-Pantau KBB minimal di dua media nasional;
  7. Hasil laporan bulanan dan tahunan terpublikasi di m-Pantau KBB, akun media sosial Wahid Institute dan website Wahid Institute. Rekapitulasi laporan juga dapat diakses oleh para pengunjung situs mPantau KBB dan aparat pemeritah.
  1. Berikut data pengunjung website mulai Januari 2015 hingga Juli 2015
  2. Tutorial sudah tersedia di situs MPantau KBB. Tutorial tertulis dalam bentuk nomor telpon pelapotan. Tutorial juga dicetak dalam bentuk stiker dan dibagian dalam setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Wahid Institute.
  3. Lima pengelola MpAntau sudah mengikuti pelatihan. Mereka adalah: gamal Ferdhi, Alamsyah M. Dja’Far, Andi Irawan, Siti Kholisoh dan Puspita
  4. Masyarakat sudah melaporkan lewat SMS gateway. Namun karena kerusakan teknis pada computer penerima semua data penerimaan hilang. Smenetar laporan lewat situs MPantau KBB hingga laporan ini ditulis baru sebanyak 4 laporan yang diverifikasi. Laporan-laporan lain banyak masuk melalui email [email protected] dan laporan via situs sosial media pribadi pengelola MPantauKBB.
  5. Peluncuran akan dilaksanakan pada awal tahun 2016.
  6. Terpublikasinya peluncuran dapat dinilai setelah peluncuran dilaksanakan
  7. Laporan bulanan sudah dipublikasi dalam website wahid Institute <<PRANALA?>>. Sementara laporan tahunan akan tersedia pada akhir tahun 2015.


4. Tujuan dan Sasaran

Silahkan anda jelaskan apa yang telah anda berhasil peroleh dengan hibah ini yang berkaitan dengan tujuan yang lebih besar yang anda harapkan dapat anda capai.

Tujuan

  • Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pemantauan isu kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB);
  • Meningkatnya pemahaman pemantau yang berada dalam koordinasi Wahid Institute dalam memanfaatkan teknologi seluler untuk melaporkan kasus-kasus KBB;

Sasaran a. Korban kekerasan yang berkaitan dengan isu KBB b. NGO dan masyarakat anti kekerasan c. Pemantau di 13 provinsi d. Peneliti dan akademisi Tujuan dan sasaran yang berhasil dicapai hingga saat ini

Pemantau yang telah menggunakan teknologi seluler adalah pemantau-pemantau yang berada di daerah jejaring awal Wahid Institute yaitu Jogjakarta/ Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Untuk daerah Lombok dan Makassar belum ada laporan pelanggaran KBB maupun praktek baik hubungan anatar umat beragama di dua daerah tersebut. Empat daerah-daerah lain yang masuk dalam lingkup proyek yaitu hanya Aceh dan NTT yang sudah melaporkan praktek-praktek baik di daerahnya. Sementara Ambon dan Denpasar belum dilakukan sosialisasi daerah tersebut.

Sedangkan empat daerah yang masuk dalam pemantauan insidental yang melakukan laporan adalah Papua dan Sulawesi Utara.

Sasaran:

a. Korban kekerasan yang berkaitan dengan isu KBB
Masyarakat adat Samin dan Sunda Wiwitan sudah menggunakan fasilitas pelaporan melalui SMS gateway ini. Sistem pelaporan ini bekerjasama dengan Pemda Blora untuk membuka pusat pelaporan isu-isu KBB di kabupaten tersebut. Untuk korban kekerasan atas nama agama, Komunitas Ahmadiyah di daerah Jawa Barat yang sering melaporkan kejadian-kejadian yang menimpa komunitasnya.
b. NGO dan masyarakat anti kekerasan
NGO & masyarakat yang telah membangun kerjasama pemantauan KBB adalah Lensa Sukabumi, CMars Surabaya, Universitas Desk KBB KOMNAS HAM, Jaringan Gusdurian Indonesia dan Abdurrahman Wahid Center menjadi dua NGO yang membangun kerjasama jaringan pemantauan di MPantau KBB. Untuk masyarakat anti kekerasan, Jaringan Muda Lintas Iman Bogor mengadakan kerjasama denganWahid Institute untuk pelatihan pemantauan KBB di daerah Bogor sekitarnya. Sementara Jaringan Radio KBR di Jakarta berencana bekerjasama dengan Wahid Institute untuk melakukan sosialisasi pemantauan di daerah-daerah yang belum tercakup dalam proyek. Masih ada beberapa NGO lagi yag memanfaatkan data-data pemantauan yang dipublikasi di situs MPantau KBB. Karena sifat penyajian data yang terbuka dan boleh diakses oleh siapapun, maka tidak ada ijin penggunaan data, yang bsa dijadikan alat ukur untuk melihat berapa jumlah pengguna data-data tersebut. Benedict Rogers, tim leader bagian Asia Timur pada International human rights organisation Christian Solidarity Worldwide (CSW).
c. Pemantau di 13 provinsi
Pemantau yang sudah memanfaatkan MPantau KBB berada di 5 jaringan awal Wahid Institute yaitu: Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah/ Jogjakarta, Makassar dan NTB. Dua daerah khusus yaitu NAD dan NTT dan dua daerah incidental yaitu: Papua dan Sulawesi Utara.
d. Peneliti dan akademisi
Dari Januari hingga Juli 2015, Berikut adalah nama-nama dan lembaga yang datang ke Wahid Institute untuk membahas perkembangan isu KBB di Wahid Institute: Peneliti dari Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR). Greg Barton, akademisi dari Universitas Monash Australia juga hadir membicarakan soal perkembangan KBB dengan Wahid Institute. Juga peneliti dari Dutch University of Groningen.

5. Perubahan Lingkup Organisasi/ Lingkungan Sekitar

Tolong jabarkan perubahan perubahan signifikan yang organisasi anda dapatkan yang memiliki dampak pada pekerjaan anda pada periode pelaporan yang anda lakukan untuk saat ini. Masukkan secara deskriptif bagaimana anda menangani perubahan perubahan tersebut dan bagaimana perencanaan anda berubah sebagai hasilnya.

Terjadi perubahan signifikan dalam organisasi atau lembaga yang menaungi pengelolaan proyek MPantau KBB, yaitu pergantian direktur eksekutif, Finance dari tim pengelola proyek dan keluarnya dua staf di Wahid Institute yang mumpuni dalam isu pemantauan KBB dan membangun jaringan pemantau. Namun karena isu pemantau KBB sudah lama digeluti oleh Wahid Institute yaitu sejak 2008, dan kerja pemantaun KBB termasuk dalam pilar utama kerja Wahid Institute, maka perubahan-perubahan tersebut tidak begitu menggangu jalannya proyek pemantauan.

Tantangan/ masalah organisasi/ pengelolaan yang dihadapi

Isu-isu manajemen atau organisasi apakah yang anda hadapi pada saat anda menuliskan laporan ini (apakah ada perubahan signifikan pada komposisi staf/ dewan atau anggota tim anda. Apakah ada faktor-faktor lain yang dapat membatasi kemampuan organisasi/ komunitas anda untuk mengumpulkan data dan menerjemahkan data data keuangan atau aktivitas yang terkait dengan program dalam tujuan awal). Bila mungkin juga tuliskan dan tekankan kebutuhan yang belum terpenuhi/ teridentifikasi sebelumnya dalam menangani penguatan organisasi/ komunitas anda

Terjadi perubahan di awal dalam tim yaitu pergantian staf keuangan proyek. Staf lama harus menangani proyek baru dalam institusi atau lemabga induk yaitu Wahid Institute. Untuk mengatasi hal itu, lembaga merekrut keuangan baru yang bertugas mengelola keuangan proyek. Ada mbeberapa kendala yang cukup berarti dari perpindahan tugas ini , seperti transfer keahlian khusus dalam mengelola situs laporan keuangan proyek yang berbasis open source. Keuangan proyek harus kembali mempelajari system pelaporan keuangan yang ditentukan oleh CMS. Hal ini juga berpengaruh pada lambanya upload laporan keuangan yang sudah berjalan sebelumnya.

Saat ini tim pengelola proyek mPantau ingin mengubah tampilan website MPantau KBB agar lebih menarik pengunjung dan memudahkan pengunjung dalam penelusuran data. Pengelola Mpantau KBB sudah berkoordinasi dengan pihak CMS untuk melakukan perubahan itu, namun harus menyesuaikan waktu dari personil-personil CMS yang menangani bidang perwajahan situs.

6. Keberagaman

Silahkan ditulis perubahan perubahan yang berpengaruh dalam keberagaman (contohnya apabila anggota komunitas, dewan, atau komposisi staf anda mulai beragam dari sisi jenis kelaminnya, suku, pendidikan, umur, budaya, agama, latar belakang asal lokasinya, bahasanya, dan lain sebagainya) dalam periode pelaporan ini. Apabila organisasi/ komunitas anda mengalami tantangan keberagaman, silahkan tuliskan juga pendapat anda.

Tidak ada tantangan yang dihadapi oleh organisasi maupun tim jika terjadi perubahan staf atau kompisisi dewan yang berkaitan dengan keragaman.

7. Laporan keuangan

Silahkan masukkan pranala laporan keuangan anda disini

8. Pengesahan

Saya, sebagai penandatangan, menyatakan bahwa saya adalah individu yang berwenang untuk menyerahkan laporan ini atas nama komunitas/ organisasi saya sesuai dengan persyaratan yang dicantumkan pada Perjanjian Hibah Cipta Media Bersama yang telah ditandatangani sebelumnya dan seluruh dana yang dibelanjakan telah dibelanjakan sesuai dengan tujuan-tujuan yang tercantum dalam permohonan hibah.

Tertanda: Lokasi dan tanggal:

Jakarta, 16 September 2015
Gamal Ferdhi




Selanjutnya: Laporan Tahap II >>